Kisah Dramatis Monika, Korban ‘Pengantin Pesanan’ Selamat Usai Kabur dari China

Kisah Dramatis Monika, Korban ‘Pengantin Pesanan’ Selamat Usai Kabur dari China

Berita Online 0 Comment

Kisah Dramatis Monika, Korban ‘Pengantin Pesanan’ Selamat Usai Kabur dari China

eroerojp.com – Salah seseorang wanita bernama Monika (24) jadi korban pengantin pesanan yang disangka masalah perdagangan orang. Monika tinggal di Kabupaten Tim Raya, Kalimantan Barat.

Cerita Monika berawal dari iming-iming makcomblang atau penghubung pelacak jodoh. Dia mengutarakan, ditawari menikah dengan pria asal Tiongkok lewat ke-2 temannya yang baru diketahui.

Makcomblang itu ada tiga. Semasing datang dari Jakarta, Singkawang serta Pontianak. Mereka wanita serta tawarkan pernikahan pada Monika dengan pria Tiongkok yang kerja jadi tukang bangunan dengan upah besar.

Monika juga disandingkan dengan calon suami bersama dengan makcomblang. Tetapi, Monika sudah sempat berprasangka buruk karena photo berkaitan pernikahannya kelak tidak bisa dibiarkan ke sosial media oleh makcomblang.

“Mereka katakan cocok photo itu kamu jangan ke media, photo, kita kelak diketahui polisi bahaya,” kata Monika waktu mengadu di Kantor Instansi Pertolongan Hukum Jakarta, Minggu (23/6).

Beberapa makcomblang itu masih memberikan keyakinan Monica jika dianya aman karena pernikahan sah biasanya. Dia dapat menyampaikan kabar beberapa makcomblang jika berlangsung apa-apa.

“Jika kamu tidak kerasan dapat telephone, saya pulangnya kamu. Ia katakan begitu,” katanya.

Monika terlena, terima pria yang ditawarkan serta pergi ke Tiongkok semenjak September 2018 lalu dengan keinginan hidup kurang dapat bersama dengan keluarga dapat terselesaikan.

“Sebab iming-iming uang. Kelak disana dibelikan emas, kelak kirim orang-tua tentu ada begitu, kamu berkecukupan,” kata Monica mengikuti perkataan makcomblang.

Singkat kata, seputar 10 bulan tinggal di Tiongkok, Monika mulai merasakan tidak kerasan tinggal bersama dengan suami serta keluarganya. Tingkah laku kekerasan serta pelecehan seksual mulai dirasakannya.

Monika menceritakan, sudah pernah dibawa melakukan hubungan intim bersama dengan suami. Tetapi, ajakan itu malas dia penuhi karena sedang sakit serta menstruasi. Suaminya tidak yakin. Sampai mertua Monika sudah sempat minta dia telanjang serta meminta menunjukkan jika sedang hadir bulan.

Selanjutnya, Monika akui sudah pernah alami kekerasan. Punggungnya sudah pernah dipukul oleh sang suami. Ia mengutarakan, ada pula temannya sebagai pengantin pesanan alami kekerasan di rumah tangga.

“Rekan-rekan saya ada tiga orang. Seseorang dipukul,” tuturnya.

Atas insiden itu, Monika mulai sadar. Dia selekasnya menelepon beberapa makcomblang untuk bercerita pengalamannya serta minta pulang ke Indonesia. Tapi, mereka hilang tanpa ada berita.

“Makcomblangnya tidak ada semua, tidak ada berita, tidak aktif semua nomornya. Kamu kelak ingin pulang dapat telephone ini saja kelak, kenyataannya tidak ada, bohong semua,” katanya.

Baca Juga : BMKG: Iklim di Malang Kembali ke 20 Tahun yang Lalu

Pada akhirnya, Monika merencanakan untuk kabur dari rumah suaminya yang tinggal di lokasi pegunungan itu. Diam-diam, dia kabur keluar rumah dengan menyetop bis ke arah terminal Wuji. Selanjutnya, transit memakai taksi ke arah kantor polisi di Hebei.

Setibanya di kantor polisi, Monika diinterogasi berkaitan keberadannya di Tiongkok. Ia juga minta polisi mengontak KBRI Indonesia agar dapat dipulangkan. Tetapi, dia tidak dapat pulang karena paspor kepunyaannya masih di tangan suami.

Polisi selanjutnya minta paspor kepunyaannya pada keluarga. Sepanjang menanti datangnya paspor, Monika justru dipenjara sepanjang tiga hari tanpa ada mendapatkan makanan sepanjang paspor itu berada di tangannya. Sesudah dihubungi serta diminta faksi kepolisian, keluarga suaminya memberi paspor itu.

Hari ke-3 di penjara, kakak suaminya memberi paspor itu pada Monika. Iparnya itu menjemputnya dari kantor polisi serta dibawa ke satu apartemen di kota Wuhan. Tetapi, Monika justru ditahan di apartemen serta disuruh kembalikan uang sebesar Rp100 juta rupiah oleh kakak iparnya jadi ubah rugi.

Monika kembali punya niat melarikan diri dari apartemen itu. Mujur, dia dapat berjumpa serta berteman dengan beberapa mahasiswa asal Indonesia yang membantunya kabur untuk pulang ke Tanah Air tanpa ada sepengetahuan iparnya. Monika disuruh ke arah universitas untuk melarikan diri.

“Saya lakukan komunikasi (sama mahasiswa Indonesia) hari apa ingin kabur. Jika ingin kabur langsung di muka universitas saja begitu (kata mahasiswa). Jadi saya beranikan diri buat kabur dari apartemen itu dari lantai 31 kan, saya beranikan diri untuk turun, saya setop taksi,” katanya.

Monika menaruh kontak mahasiswa yang membantunya itu serta memberi kontak itu pada sopir taksi. Maksudnya supaya mahasiswa itu dapat memberi instruksi pada sang sopir.

Kaburnya Monika berjalan lancar. Setibanya di universitas, dia dijemput oleh beberapa mahasiswa itu serta dibawa ke satu hotel. Disana ada mahasiswa lain yang siap membantunya mengatur ticket serta mengantarkan ke lapangan terbang untuk kembali pada Indonesia. Pada akhirnya, Monika datang di Tanah Air pada Sabtu, 22 Juni 2019 dengan selamat.

“Mereka antar ke lapangan terbang, terus mahasiswa itu yang urus ticket. Saya kan tidak tahu disana. Ia titipkan saya ke dua orang temannya untuk membantu saya sepanjang di pesawat, saya disertai dua orang temannya barusan. Sampai Indonesia itu saya telah pisahlah sama temannya sampai saya di lapangan terbang,” tutup Monika.

Author

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Back to Top