Ajaib, Meski Selamat Rumah Korban Gempa Sigi Pindah Alamat

Ajaib, Meski Selamat Rumah Korban Gempa Sigi Pindah Alamat

Berita Online 0 Comment

Ajaib, Meski Selamat Rumah Korban Gempa Sigi Pindah Alamat

Ajaib, Meski Selamat Rumah Korban Gempa Sigi Pindah Alamat

eroerojp.com, Walau selamat dari bencana gempa serta tsunami, masyarakat Desa Sibalaya Selatan, Sigi, merasakan permukiman mereka berubah beberapa ratus mtr. sampai masuk ke lokasi desa tetangga.

Gempa Sigi membuat beberapa permukiman, sawah, serta lapangan bola di Sibalaya Selatan beralih tempat. Jauh berubah mengarah barat. Ya, gempa di Sibalaya Selatan serta Utara memang “unik”. Belasan masyarakat yang lihat pergeseran tanah itu dibikin geleng-geleng kepala. Mereka seolah tidak yakin lihat musibah semacam itu.

Menurut info yang diambil dari Jawapos.com, Minggu (7/10/2018), skema pergeseran permukiman di Sibalaya Selatan serupa yang berlangsung di Kelurahan Petobo, Palu, serta Desa Jonooge di Kabupaten Sigi. Perbedaannya, efek gempa di Desa Sibalaya Selatan semakin dapat disaksikan. Beberapa lokasi desa seluas 4 hektare itu seakan beralih demikian saja.

Bacalah juga : Mahasiswa Ini Tak Sengaja Menemukan Cara Supaya Baterai Handphone Kita Tahan Lama

Akses trans-Palu-Kulawi terputus di Desa Sibalaya Utara. Jalan beraspal mulus itu terpotong sejauh 400 mtr.. Potongan jalan beralih. Berubah ke barat sejauh 300 mtr. dari tempat sebelumnya.

“Rumah yang warna hijau itu dulunya disana,” tunjuk Tedi Fidel, pemuda asal Sibalaya Selatan.

Rumah yang ia tujuan itu awal mulanya cuma berjarak 15 mtr. dari tempat tinggalnya. Akan tetapi, saat ini rumah itu telah ada 300 mtr. lebih dari tempat tinggalnya.

Ada seputar 25 rumah yang turut berubah beberapa ratus mtr.. Komplet dengan jalan aspal serta pohon-pohon yang berubah dalam keadaan masih tetap tegak berdiri. Bahkan juga, ada pula rumah yang berubah bersama dengan dua mobil serta pagar halaman. Semua utuh.

Keadaan itu membuat beberapa masyarakat yang berubah bisa saja geser alamat. Akan tetapi, mereka sekarang bingung memastikan alamat rumah. Karena, rumah-rumah mereka sudah berubah sampai geser ke desa tetangga, yaitu Sibalaya Utara.

Lalu, ada dimana masyarakat yang tinggal di permukiman itu? Beberapa dari mereka yang selamat mengungsi ke Kantor Desa Sibalaya Selatan. “Itu (daerah, Red) yang berubah semua masyarakat RT 1 RW 1, Desa Sibalaya Selatan,” tutur Usmadin.

Ia ialah korban yang selamat dari tanah berubah itu. Usmadin tidak sendiri. Ada 55 masyarakat yang lain yang selamat dari bencana itu. Cuma dua orang yang wafat.

Bergesernya permukiman itu diceritakan Usmadin dengan semangat. Waktu gempa berlangsung, Usmadin baru pulang kerja di Kantor Desa Sibalaya Selatan. Sore itu udara tengah gerah. Sekejap sebelum gempa, pria 42 tahun itu masih tetap sudah sempat masukkan beberapa puluh ayam peliharaannya ke kandang.

Sepersekian detik lalu guncangan keras berlangsung. Ia terjatuh. Lalu berteriak minta istri serta dua anaknya keluar rumah. Selamatkan diri. Sesudah bumi bergoyang seputar satu menit, ruang permukiman itu seakan roboh. Turun ke bawah. Disusul lalu tanah berjalan mengarah selatan.

“Saya lihat ada pohon kelapa jalan,” katanya. Akan tetapi, perasaan itu nyatanya salah. Bukan pohon kelapa yang berjalan, tetapi rumahnyalah yang berubah menjauh mengarah barat.

Usmadin serta keluarga selekasnya selamatkan diri dengan selalu lari. Mereka berdasar pada bongkahan tanah yang keras. Demikian ada bongkahan tanah muncul, langsung ia injak. Bongkahan tanah yang turun ia tinggalkan. Selalu demikian. Sampai gempa serta gerak tanah betul-betul berhenti.

Usmadin terasa sudah jauh tinggalkan tempat tinggalnya. Akan tetapi, yang membuat Usmadin kaget, nyatanya dianya masih tetap ada di belakang tempat tinggalnya. “Saya fikir telah lari menjauh, nyatanya cuma muter-muter saja,” tuturnya lalu ketawa. Sesudah pergerakan tanah berhenti, ia mencari keluarganya. Untung, semua selamat.

Peristiwa Lainnya

Pengalaman lari di tanah yang berjalan ikut dirasa Haji Udin. Waktu peristiwa, ia tengah salat magrib di Masjid Ar Rahman, Sidalaya Selatan. Akan tetapi, tanah yang berjalan membuat jamaah langsung semburat. Semua berupaya selamatkan diri. Udin juga lari kencang. “Saya sudah sempat lihat tanah naik, lalu turun cepat. Sebelum memutar hebat.”

Sofyan lebih mujur. Ia tidak ada di tempat waktu gempa berlangsung. Sofyan tengah melihat sepak bola antarkampung di lapangan Desa Sunju Marawola. Walau demikian, lelaki 41 tahun itu masih cemas waktu gempa berlangsung. Ditambah lagi saat tahu anak-istrinya masih tetap di dalam rumah.

Sofyan bergegas tancap gas ke arah ke rumah. Ia lalu tahu keadaan tempat tinggalnya yang beralih jauh dari tempat aslinya. “Saya cemas anak serta istri kenapa-napa,” katanya.

Waktu itu Sofyan bersama dengan masyarakat coba lakukan evakuasi sendiri. Di dalam gelap gulita malam tiada penerangan listrik.

Mencari beberapa saat, Sofyan menarik napas panjang. Ia lega. anak, istri, serta mertuanya yang tinggal berjarak empat rumah dengannya selamat. Tiada luka serius.

Author

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Back to Top