Tuan Rumah Olimpiade dan ”Kutukan” yang Menyertainya

Tuan Rumah Olimpiade dan ”Kutukan” yang Menyertainya

Berita Online 0 Comment

Tuan Rumah Olimpiade dan ”Kutukan” yang Menyertainya

Tuan Rumah Olimpiade dan ''Kutukan'' yang Menyertainya

eroerojp.com, Presiden Joko Widodo (ke-2 kanan) bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla lihat isi buku tabungan waktu pemberian bonus pada atlet peraih medali di Istana Negara, Jakarta, Minggu (2/9/2018). Pemerintah memberi bonus pada beberapa atlet yang sukses mencapai medali dalam arena Asian Games 2018.

Pada Sabtu (1/9/2018), beredar berita jika Presiden Joko “Jokowi” Widodo merencanakan mencalonkan Indonesia menjadi tuan-rumah Olimpiade 2032.

Gagasan itu disampaikan Jokowi selesai berjumpa dengan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach serta Ketua Dewan Olimpiade Asia (OCA) Ahmad al-Fahad al-Sabah di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/9).

Bacalah juga : Pernah Ditawar Seharga Mobil, Kalender Bertanggal 17 Agustus 1945 Dipajang di Arena Asian Games 2018

Pendorongnya, menurut Jokowi, ialah kesuksesan serta sambutan meriah penduduk pada penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta serta Palembang, yang akan selesai ini hari, Minggu (2/9).

“Dengan pengalaman yang kita punya dalam penyelenggaraan Asian Games ke-18 ini, kita meyakini dapat juga serta dapat jadi tuan-rumah untuk acara yang semakin besar,” kata Presiden, diambil Antaranews.

Menjamu seputar 12.000 atlet serta beberapa ribu ofisial dari 45 negara memanglah bukan pekerjaan kecil serta gampang. Indonesia dapat disebut sukses mengadakan Asian Games pertama yang berjalan di dua kota, relatif tiada masalah.

Permasalahan paling besar yang menimpa panitia penyelenggara (Inasgoc) ialah masalah penjualan ticket serta bangku stadion yang sering terlihat kosong walaupun ticket dinyatakan habis terjual.

Dari dalam ajang, laga juga berjalan mulus. Pro-kontra paling besar berlangsung waktu pesilat Malaysia Mohd Al Juffery mundur pada ronde ke-3 final kelas E putra 65-70 kg karena terasa dicurangi waktu menantang pesilat Indonesia Komang Harik Adi Putra.

“Oleh karenanya, Indonesia merencanakan secepat-cepatnya untuk ajukan diri menjadi calon tuan-rumah Olimpiade pada tahun 2032,” tandas Jokowi dalam pertemuan yang di hadiri Menteri Luar Negeri Retno Marsudi serta Ketua Inasgoc Erick Thohir.

Kesuksesan itu, menurut Bach, tunjukkan Indonesia sudah mempunyai beberapa bahan yang cukuplah untuk dapat mengadakan arena berolahraga yang semakin besar, yaitu Olimpiade.

“Kalian lihat jika Indonesia tengah berjalan maju. Serta kalian lihat ketertarikan penduduk,” kata Bach pada Associated Press (h/t The Washington Post). “Ini ialah negara yang sangat muda. Kemauan itu jelas sangat menarik buat IOC.”

Ia mengatakan proses seleksi tuan-rumah Olimpiade 2032 belumlah diawali serta penentuan baru akan dikerjakan pada 2025. Akan tetapi selama ini, tidak hanya Indonesia, ada dua negara, yakni Jerman serta India, yang sudah mengatakan tertarik menjadi tuan-rumah arena empat tahunan itu.

Tokyo sudah diputuskan jadi tuan-rumah Olimpiade 2020, diteruskan Paris pada 2024, lantas Los Angeles untuk Olimpiade 2028.

Erick Thohir, yang Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI), mengatakan akan selekasnya mengatur administrasi penyalonan tuan-rumah Olimpiade 2032 selesai Asian Games 2018.

Sumpah tuan-rumah Olimpiade

Photo yang diambil pada 13 Agustus 2014 ini tunjukkan ajang Aquatic Centre Olimpiade 2004 di Athena, Yunani, yang terlewatkan. Jadi tuan-rumah Olimpiade dikatakan sebagai salah satunya pemicu bangkrutnya negara itu.

Akan tetapi, sebelum bertanding merampas tempat menjadi tuan-rumah Olimpiade, terdapat beberapa perihal yang harus dipikirkan, disediakan, serta diperhitungkan oleh pemerintah Indonesia.

Mengadakan Olimpiade memang nampaknya bukan permasalahan besar buat negara yang sempat jadi tuan-rumah Asian Games. Walaupun jumlahnya negara peserta makin bertambah, tapi jumlahnya atlet relatif sama, seputar 11.000, karena cuma atlet yang lolos seleksi dapat tampil di acara besar itu.

Bahkan juga, jumlahnya cabang berolahraga (cabor) Olimpiade juga hampir sama juga dengan yang sudah diadakan dalam Asian Games. Akan tetapi tidak ada cabor yang dapat diambil oleh penyelenggara seperti sebagai kelebihan buat tuan-rumah arena multi-event Asia.

Oleh karenanya, buat Indonesia, mungkin tidak memerlukan pembangunan ajang berolahraga dengan besar-besaran lagi. Kelihatannya cuma butuh untuk sesuaikan stadion-stadion itu dengan standard yang diputuskan IOC.

tersedianya ajang bisa menjadi nilai lebih dalam penyalonan diri. Tidak butuh dana besar-besaran serta waktu panjang untuk mempersiapkan beberapa ajang laga.

“Banyak ajang kami yang telah berkualitas dunia, seperti stadion atletik, velodrome, lapangan sepak bola, dayung,” kata Erick Thohir dalam The Straits Times. “Kami mesti jamin kami selalu jadi tuan-rumah arena berolahraga kelas dunia sampai IOC serta anggora yang lain mensupport Indonesia untuk Olimpiade 2032.”

“Itu proses yang panjang. Saya fikir kami siap.”

Pembangunan ajang serta infrastruktur simpatisan lainnya–seperti fasilitas transportasi serta akomodasi–yang mengonsumsi cost besar, sudah lama jadi pemicu apakah yang dikatakan sebagai “sumpah tuan-rumah Olimpiade”.

Bayangan keuntungan, sering membuat beberapa tuan-rumah jor-joran keluarkan dana pembangunan fasilitas serta prasarana. Tetapi hasil pada akhirnya ialah utang bertumpuk yang akan memberatkan negara tuan-rumah sampai bertahun-tahun sesudahnya.

Menjadi contoh, Montreal, Kanada, sebagai tuan-rumah Olimpiade 1976, perlu hampir empat dekade untuk melunasi utang 1,5 miliar dolar selesai penyelenggaraan. Jadi tuan-rumah Olimpiade 2004, dikatakan sebagai salah satunya pemicu bangkrutnya Yunani.

Hasil studi pada perekonomian beberapa tuan-rumah pasca-Olimpiade yang dikerjakan Council on Foreign Relations juga tunjukkan hasil yang negatif.

“Argumen-argumen banyak pakar ekonomi jika jadi tuan-rumah dapat memberi keuntungan periode pendek serta panjang sangat dibesar-besarkan serta dapat disebut tidak terwujud. Banyak negara tuan-rumah yang lalu malah memikul utang besar serta tidak dapat menjaga (ajang yang sudah dibuat),” catat mereka.

Taktik Los Angeles

Selama histori Olimpiade, baru Los Angeles (LA), Amerika Serikat, yang sukses memperoleh untung sampai 200 juta dolar AS pada 1984. Kota-kota yang lain malah buntung.

Kenapa Los Angeles dapat untung?

Fortune menuturkan, kota paling besar di Pantai Barat Amerika Serikat itu telah mempunyai semua ajang laga yang dibutuhkan. Mereka cuma butuh dikit merehabilitasinya.

Diluar itu, karena Teheran, Iran, mengundurkan diri serta tidak ada negara lainnya yang tertarik, LA miliki tempat tawar yang kuat untuk mendesak IOC supaya cuma mengadakan cabang berolahraga yang arenanya telah ada.

Pada akhirnya, cuma 21 cabor serta 29 nomer yang dipertandingkan. Jumlahnya yang termasuk juga dikit selama penyelenggaraan Olimpiade pada masa moderen.

Satu lagi, saat itu LA telah jadi salah satunya arah wisata terpopuler didunia. Oleh karenanya mereka tidak butuh lagi ribet mengenalkan diri serta merayu beberapa calon turis dari beberapa pelosok Bumi untuk berkunjung kesana.

Dengan semua keunggulan itu, tidak heran bila LA kembali dipilih jadi tuan-rumah Olimpiade pada 2028.

Bila Indonesia memang berkemauan menjadi tuan-rumah Olimpiade, LA nampaknya dapat jadikan menjadi contoh yang baik.

Author

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Back to Top